hana
BiNusian weblog
OPTIMALISASI PENGENDALIAN KINERJA ORGANISASI
Categories: Manajemen & Bisnis

1. Apakah pentingnya pengendalian itu bagi organisasi?

=>   Pengendalian  itu  penting   karena  merupakan    satu-satunya   cara
manajer mengetahui apakah sasaran organisasi itu tercapai atau tidak,
dengan disertai alasannya. Selain itu alasan pentingnya pengendalian
bagi organisasi, adalah:
1. Merupakan  jembatan  terakhir  dalam  rantai   fungsional   kegiatan
manajemen  (Perencanaan   →  Pengorganisasian    →   Kepemimpinan  →
Pengendalian).
2. Mengukur tercapainya tujuan yang ditetapkan pada perencanaan.
3. Sebagai   umpan   balik   berdasarkan    hasil     pengukuran   pada
pengendalian (Perencanaan → Pengorganisasian → Kepemimpinan →
Pengendalian → Perencanaan).

2. Bagaimana proses pengendalian itu dilakukan?

=> Proses pengendalian dilakukan berdasarkan 3 langkah, yaitu:
1. Mengukur kinerja sesungguhnya.
Dalam hal ini ada beberapa sumber untuk mendapatkan informasi
kinerja:
a. Melalui pengamatan pribadi
b. Melalui laporan statistik
c. Melalui laporan lisan
d. Melalui laporan tertulis
Masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahannya tersendiri. Namun,
gabungan sumber informasi itu mampu meningkatkan baik dari jumlah
sumber masukan maupun kemungkinan menerima informasi yang handal.
2. Membandingkan kinerja sesungguhnya dengan standar.
Langkah perbandingan menentukan derajat variasi antara kinerja
sesungguhnya dengan standar.
3. Mengambil tindakan manajerial.
Ada 3 tindakan yang memungkinkan diambil oleh para manajer,
yaitu:
a. Tidak melakukan apa-apa
b. Merevisi standar
c. Mengoreksi/memperbaiki kinerja

3. Sebutkan dan jelaskan jenis pengendalian yang saudara ketahui.

=> Jenis-jenis pengendalian:
1. Pengendalian umpan depan (feedforward control)
Berfokus pada mencegah masalah yang telah diantisipasi sejak
masalah   itu   terjadi    di   muka   kegiatan   kerja   sesungguhnya.
Pengendalian ini diarahkan ke masa depan.
2. Pengendalian sejalan (concurrent control)
Pengendalian sewaktu kegiatan kerja berlangsung, manajer dapat
mengoreksi    masalah    sebelum    masalah   menjadi   mahal.    Bentuk
pengendalian    sejalan   yang   paling   terkenal  adalah   pengawasan
langsung.
3. Pengendalian umpan balik (feedback control)
Pengendalian setelah kegiatan kerja dilakukan.

4. Pada saat seperti sekarang ini banyak manajer yang memanfaatkan
informasi   dalam    mengendalikan     organisasi   mereka.   Bagaimana
informasi itu digunakan dalam pengendalian?

=>  Informasi   dalam   pengendalian    digunakan   untuk  mengukur    kinerja
sesungguhnya. Karena untuk menentukan seperti apa kinerjanya, manajer
harus mendapatkan informasi mengenai kinerja tersebut. Ada 4 (empat)
sumber   umum   informasi    yang   biasa   digunakan   para   manajer   dalam
mengukur   kinerja   sesungguhnya,    yaitu: pengamatan     pribadi, laporan
statistik, laporan lisan, dan laporan tertulis, yang masing-masing
mempunyai kekuatan dan kelemahan.

5. Adakah praktik-praktik pengendalian itu berkaitan dengan budaya
nasional? Jelaskan pendapat saudara.

=>  Menurut   saya  ada.   Bahkan  seringkali  karena  adanya perbedaan
budaya, maka dalam hal ini pengendalian itu sangat dibutuhkan. Dan
masalah ini umumnya dihadapi oleh para manajer global. Salah satu
contohnya perbedaan dalam metode pengendalian, hal ini bisa jadi
karena dipengaruhi kemajuan teknologi dan hukkum yang berlaku pada
negara tersebut.

6. Apakah   masalah-masalah    etis  yang   muncul  dalam  penerapan
pengendalian yang efektif itu.

=>   Masalah-masalah   etis  yang   seringkali  muncul  dalam penerapan
pengendalian yang efektif, adalah:
1. Perbedaan budaya. Contohnya perbedaan metode pengendalian, bisa
dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan hukum yang berlaku pada
negara tersebut.
2. Masalah di tempat kerja. Contohnya pencurian atau kekacauan oleh
karyawan, dan kekerasan di tempat kerja.
3. Interaksi pelanggan. Hubungan antara karyawan dengan pelanggan,
serta pentingnya mengendalikan interaksi keduanya.

Pedoman Standar Sistem Pengendalian Intern Bagi Bank Umum

Pedoman   Standar    Sistem  Pengendalian  Intern   bagi  Bank   Umum
merupakan   acuan    standar  Sistem   Pengendalian  Intern   yang   wajib
dipenuhi oleh Bank sehingga Bank dapat memperluas dan memperdalam
sesuai dengan kebutuhan Bank. Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang
efektif merupakan komponen penting dalam manajemen Bank dan menjadi
dasar bagi kegiatan operasional Bank yang sehat dan aman. Sistem
Pengendalian Intern yang efektif dapat membantu pengurus Bank menjaga
aset Bank, menjamin tersedianya pelaporan keuangan dan manajerial
yang dapat dipercaya, meningkatkan kepatuhan Bank terhadap ketentuan
dan  peraturan    perundang-undangan   yang  berlaku,   serta  mengurangi
risiko  terjadinya     kerugian,   penyimpangan  dan   pelanggaran   aspek
kehati-hatian.
Pengendalian intern merupakan suatu mekanisme pengawasan yang
ditetapkan   oleh  manajemen   Bank  secara  berkesinambungan   (on  going
basis), guna:
1. menjaga dan mengamankan harta kekayaan Bank;
2. menjamin tersedianya laporan yang lebih akurat;
3. meningkatkan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku;
4. mengurangi     dampak   keuangan/kerugian,   penyimpangan    termasuk
kecurangan/fraud, dan pelanggaran aspek kehati-hatian;
5. meningkatkan efektivitas organisasi dan meningkatkan efisiensi
biaya.
Dalam   penyusunan      Sistem    Pengendalian    Intern,    Bank    wajib
mempertimbangkan   total    aset,    produk   dan  jasa    yang   ditawarkan,
termasuk produk dan jasa baru, kompleksitas operasional, jaringan
kantor,  profil   risiko    dari   setiap   kegiatan    usaha,   metode   yang
digunakan  untuk    pengolahan     data   dan   pengukuran    risiko,    serta
ketentuan terkait yang berlaku.
Pengendalian Intern Bank terdiri dari lima elemen utama yang
satu sama lain saling berkaitan, yaitu:
1. Pengawasan oleh manajemen dan budaya pengendalian;
Dewan Komisaris dan Direksi bertanggungjawab dalam meningkatkan
etika kerja dan integritas yang tinggi serta menciptakan suatu
kultur organisasi yang menekankan kepada seluruh pegawai Bank
mengenai pentingnya pengendalian intern yang berlaku di Bank.
Sedangkan   untuk   mendukung    budaya   pengendalian,    maka   seluruh
kebijakan,     standar       dan     prosedur      operasional      harus
didokumentasikan    secara    tertulis    dan  tersedia     bagi   setiap
pegawai yang terkait.

2. Identifikasi dan penilaian risiko;
Suatu Sistem Pengendalian Intern yang efektif mengharuskan Bank
secara terus menerus mengidentifikasi dan menilai risiko yang
dapat mempengaruhi pencapaian sasaran. Penilaian risiko harus
pula dilakukan oleh auditor intern sehingga cakupan audit yang
dilakukan lebih luas dan menyeluruh.

3. Kegiatan pengendalian dan pemisahan fungsi;
Kegiatan  pengendalian     harus   melibatkan  seluruh    pegawai   Bank,
termasuk Direksi. Oleh karena itu, kegiatan pengendalian akan
berjalan   efektif    apabila    direncanakan    dan   diterapkan    guna
mengendalikan    risiko     yang    telah   diidentifikasi.      Kegiatan
pengendalian   yang   diterapkan    pada  semua   tingkatan   fungsional
meliputi: Kaji Ulang Manajemen (Top Level Reviews), Kaji Ulang
Kinerja  Operasional     (Functional    Review),   Pengendalian    Sistem
Informasi,    Pengendalian    Aset    Fisik    (Physical     Controls),
Dokumentasi.    Sedangkan   untuk     Pemisahan    fungsi,    hal   ini
dimaksudkan agar setiap orang dalam jabatannya tidak memiliki
peluang   untuk   melakukan   dan   menyembunyikan     kesalahan   atau
penyimpangan   dalam  pelaksanaan    tugasnya   pada  seluruh   jenjang
organisasi dan seluruh langkah kegiatan operasional. Bank harus
mematuhi   prinsip  pemisahan   fungsi   ini,  yang   dikenal   sebagai
“Four-Eyes Principle”.

4. Sistem akuntansi, informasi dan komunikasi;
Sistem   akuntansi,    informasi    dan   komunikasi     yang   memadai
dimaksudkan   agar  dapat  mengidentifikasi     masalah   yang  mungkin
timbul  dan   digunakan  sebagai   sarana   tukar   menukar   informasi
dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya
masing-masing.

5. Kegiatan pemantauan dan tindakan koreksi penyimpangan.
Bank harus melakukan pemantauan secara terus menerus terhadap
efektivitas keseluruhan pelaksanaan pengendalian intern. Setiap
laporan mengenai kelemahan dalam pengendalian intern atau tidak
efektifnya pengendalian risiko Bank harus segera ditindaklanjuti
oleh dewan Komisaris, Direksi dan pejabat eksekutif terkait.

*Sumber referensi:
1. www.bi.go.id/web/id/peraturam/arsip+peraturan/perbankan2003.htm
2. www.bi.go.id/biweb/utama/peraturan/lampiran-se-52203-dpnp.pdf

Leave a Reply